Selasa, 14 Oktober 2014

The GOD - chapter 2


2

Langkahnya yang pasti dan tegas semakin cepat bergerak saat melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Membereskan baju-baju yang tergeletak di kasur, menggosok gigi, memakai pakaian dengan stelan jas berwarna hitam dan merapikan semua keperluan yang dibutuhkan ia lakukan di waktu yang bersamaan. Bahkan setengah berlari ketika ia menuju ke kamar atas setelah selesai dengan semua kebutuhannya di kamarnya yang terletak dibagian bawah sebuah apartemen. Kamarnya memang dalam keadaan tidak keruan ketika terakhir ia tinggalkan, tapi melihat kamar yang baru saja ia masuki membuatnya berpikir bahwa kamarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan yang ada dihadapannya ini, dalam segi kekacauannya.

“Teknologi, sains, fisika, Einstein, Edison, Newton. Semua dapat kau jabarkan diluar kepalamu dengan sangat luar biasa. Tapi untuk memperhatikan sedikit dari bagian kehidupanmu, harus orang lain yang memulainya? Demi Tuhan, Abe, kau belajar segalanya tentang biologi, tentang hukum alam tapi kau tidak mengamalkannya dalam kehidupanmu sehari-hari. Dalam kehidupanmu sendiri!” ujar Jensen yang baru saja memasuki kamar temannya. “Dan bisakah kau matikan video game-mu itu saat ada orang yang sedang berbicara padamu?!”

            “Ah! Teman baikku, Jensen. Ini permainan terbaru, apa kau tidak tahu? Serial terbaru dari Call of Duty. Kau ingin memainkannya bersama? Kurasa tidak,” jawab Abraham sambil mematikan video gamenya. “Tapi pernyataanmu itu sedikit keliru, sobat. Biologi memang termasuk dalam sains tapi sains bukan hanya sekedar biologi. Dan harus ada keterkaitannya juga antara fisika dan kimianya agar tercipta suatu kondisi yang saling menguntungkan. Lagipula yang kupelajari selama ini tidak hanya sekedar fisika, biologi ataupun kimia. Aku mempelajari tentang keseimbangan alam semesta ini, Jensen. Keseimbangan yang menyebabkan harmonisasi dari ciptaan-Nya yang sempurna—alam ini. Karena memang jika kita perhatikan semua yang tercipta di alam semesta ini memang saling berpasangan dan saling menciptakan hubungan timbal-balik yang seimbang.

            “Contohnya api yang dapat padam dengan air, siang yang selalu berganti dengan malam, ada panas dan ada dingin, kutub selatan dengan kutub utara, virus dengan antivirus, kanan dengan kiri, malaikat dengan iblis dan Sang Pencipta dengan Sang Penghancur. Dan kau tahu, Jensen, semua hal itu membuatku berspekulasi bahwa benda yang kau lihat di alam ini, yang bersifat materi, mempunyai lawannya, yaitu zat antimateri. Yang mana aku yakin hal itulah yang nanti akan membinasakan alam semesta ini. Singkat cerita, jika big bang tercipta karena adanya muatan materi yang berlebih, maka big crunch disebabkan oleh zat antimateri ini. Atau dengan kata lain, materi adalah cikal bakal suatu kehidupan dan antimateri inilah cikal bakal suatu kehancuran.”

            “Hanya tiga kata yang aku inginkan, Abe. Rapikan! Penampilanmu! Sekarang! Karena jika kau tidak keberatan, kita mempunyai jadwal yang padat hari ini. Karena aku akan bertemu dengan klienku pagi ini dan aku tidak mau ini menjadi hari terakhir bagi karirku! Dan terlebih juga kita mempunyai janji bertemu seseorang hari ini, jadi aku ingin kau berpenampilan sebaik mungkin agar tidak membuatku kecewa—atau mungkin membuatnya kecewa, lebih tepatnya,”

            “Kita? Bukankah hanya kau yang ingin bertemu klien hari ini?”

“Memang”

“Lalu untuk apa aku juga harus bersiap-siap?”

“Ini hari Jumat, Abe. Dan kau ingat apa yang kita janjikan pada hari Jumat ini?”

“Ingatanku sedang kacau belakangan ini.”

“Kau, aku, wanita itu, sore ini, restoran Prancis.”

“Hari ini?! Sekarang?! Oh, tapi bukankah kau akan ada janji bertemu klienmu hari ini?”

            “Lalu?”

            “Kau pasti akan sibuk mengurusi klienmu itu, jadi aku akan menunggumu dengan manis disini sampai kau pulang,” ujar Abraham dengan senyum yang aneh.

            “Temanku, Abraham Quint, aku ingin kau . . .”

            “Percayalah, Jensen, aku sibuk dan kau akan lebih sibuk lagi. Tidakkah kau lihat . . .”

            “Rapikan penampilanmu sekarang!”

            “Selama ini selalu kau yang membuatkanku sarapan, jadi untuk sekarang biar aku yang menyiapkan . . .”
            “Kita tidak punya banyak waktu!”

            “Omelet dan kopi hangat . . .”

            “Sekarang.”

            “Ditambah dengan sedikit mentega dan . . .”

            “Sekarang, Abraham!”

“Oke, baiklah. Aku akan bersiap sekarang. Hanya saja jika kau mau . . .”

“Astaga, Abe! Bisakah kau lakukan saja? Terima kasih!”

Menit berikutnya Jensen dan Abraham berjalan keluar apartemen mereka menyusuri pinggir jalan salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia, Moskow. Sangat padat dan berdesakkan bagi warga sekitar tapi lain halnya bagi para pebisnis, karena ini adalah surganya mereka. Banyak lapangan pekerjaan dengan prospek yang sangat menjanjikan bagi mereka yang mau bekerja keras dan bagi mereka yang sedang mencari kesempatan, seperti dua orang kerabat ini, Jensen dan Abraham.

Jensen, dengan tinggi badan sekitar seratus delapan puluh sentimeter, adalah pemuda asal kota Heilbronn, kota terbesar ke enam di Jerman. Setelah lulus kuliah ia memutuskan untuk mencari pekerjaan dan mengadu nasib di negara lain. Sebelumnya ia bersama Abraham pernah menjelajahi beberapa negara Eropa, seperti Swiss, Swedia, Finlandia dan semenanjung Skandinavia hingga akhirnya sekarang mereka berlabuh di Moskow, Rusia. Karena sempat lama bersekolah di wilayah Inggris, Jensen pun menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasanya sehari-hari, walaupun aksen Jermannya sesekali masih terdengar.

Sementara rekannya, Abraham, yang tinggi badannya lebih pendek beberapa sentimeter dari Jensen namun tetap terlihat atletis, berasal dari kota Columbus, negara bagian dari Carolina Utara, Amerika Serikat. Abraham adalah pemuda yang sangat terobsesi pada semua jenis  video game, dari mulai jenis video game klasik sampai yang terbaru tidak ada yang tidak bisa ia mainkan. Bahkan ia terbilang ahli dalam bidang itu. Jika ada gelar seperti pada tingkat akademis pada umumnya, dalam hal bermain video game ia sudah sederajat dengan tingkat professor. Sisi lain dari dirinya adalah ia mempunyai keinginan untuk menjelajahi dunia dan sangat terobsesi untuk mengetahui sisi lain dari dunia yang belum ia lihat sebelumnya. Mendengar kabar bahwa temannya, Jensen, ingin mencari pekerjaan di luar Jerman, ia pun menawarkan diri untuk menjadi teman bicara Jensen sekaligus untuk mengobati rasa haus dari keinginannya yang belum tercapai.

Walaupun berasal dari benua yang berbeda, mereka berdua sudah menjadi teman sejak masih di sekolah menengah pertama, yang mana pada waktu itu mereka sama sama bersekolah di London, Inggris sampai akhir masa sekolah menengah atas. Setelah masa sekolah atas berakhir, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke negara masing-masing dengan kehidupannya masing-masing. Yaitu Jensen melanjutkan kuliahnya di jurusan Hubungan Internasional sedangkan Abraham membantu keuangan keluarganya dengan bekerja disalah satu lembaga pemerintah Amerika Serikat.

“Kau tahu, Jensen, sejarah dari nama kota ini?” kata Abraham setelah mereka turun dari taksi dan berjalan di wilayah Kuznetsky Most.

“Apa didalam otakmu tahu akan segala bentuk sejarah yang tidak kuketahui?”

“Aku hanya bertanya, tidakkah itu salah?”

“Entahlah.”

“Kota ini berasal dari sungai yang berada membentang di kota ini, Moskwa. Kebanyakan orang beranggapan bahwa nama sungai itulah yang dinamai sesuai nama kota ini, tapi sesungguhnya hal itu keliru, kawan.”

“Aku bahkan tidak tahu hal sekecil itu.”

“Ya, kebanyakan dari kita juga suka menyepelekan hal-hal kecil.”

“Oke, lalu fakta apa lagi yang ingin kau sampaikan, Mr. Holmes?”

“Tidak ada, justru aku yang ingin mengetahui fakta apa yang akan aku dapatkan saat ini.”

“Kita akan langsung menuju ke restoran Prancis.”

“Klienmu?”

“Bertemu disana.”

“Wanita itu?”

“Juga disana.”

“Kata orang pemandangan di Crimean Bridge jauh lebih bagus, dan sedang ada pameran game terbaru di sekitar sana. Jadi aku mau kesana saja.”

“Pengalihan perhatian!”

“Aku menyebutnya penyelamatan diri.”

“Baiklah, bisakah untuk hari ini saja aku yang menjadi bosnya dan kau akan menuruti semua yang aku perintahkan kepadamu? Setelah hari ini berakhir kau bebas mau melakukan apapun sesuka hatimu.”

“Termasuk tidur di kasurmu—kau tidur dikasurku, mendapatkan hadiah dari setiap pembelian kentang gorengmu, dan diperbolehkan memainkan video gamemu dan menonton televisi dikamarmu, karena di kamarku tidak ada saluran Nickelodeonnya,”

“Lakukan saja apa yang aku perintahkan sepanjang hari ini.”

Sepanjang perjalanan mereka saling diam dan hanya sesekali bicara dan tertawa ketika ada wisatawan yang menyapa dan mengajak mereka bercanda. Hanya sekitar lima belas menit mereka berjalan menyusuri Kuznetsky Most hingga akhirnya sampai di Lubyanka Street. Tidak lama mereka mencari restoran yang dituju karena memang wilayah tersebut minim akan wilayah-wilayah wisata, tidak seperti didaerah Kuznetsky Most. Jensen memasuki restoran tersebut yang masih sepi dengan pelanggan diikuti Abraham yang pandangannya menjelajah ke seluruh wilayah restoran sebelum memasukinya. Setelah masuk mereka pun mencari tempat duduk didekat jendela dengan alasan agar siapapun yang masuk ke restoran, Abraham dapat mengetahuinya lebih dulu.

“Jam berapa tepatnya janjimu itu?” tanya Abraham setelah kopi pesanannya disajikan.

“Delapan tiga puluh. Kau tahulah bagaimana orang-orang bisnis itu bekerja. Dan keterlamabatan adalah bagian dari pekerjaan mereka.”

“Aku tidak melihat keterlambatan didalam dirimu.”

“Tapi kau yang memperlambatku.”

“Hei, aku memujimu sobat. Ya, walaupun kau sedikit benar.”

Jensen hanya membalasnya dengan senyuman tipis diikuti gigitan kecil pada croissant miliknya. Belum banyak pengunjung yang datang di restoran itu jadi mereka dapat melontarkan ejekan sesuka mereka tanpa terasa canggung. Hanya ada empat orang didalam restoran tersebut, yaitu seorang pelayan wanita yang sedang mengelap gelas-gelas dibalik station tempatnya bekerja, seorang pria dengan bentuk tubuh tidak terlalu besar dan terlihat seperti pengunjung dengan wajah berkebangsaan lokal yang sedang duduk didepan station sambil membaca koran dan sesekali menggesek hidungnya yang mancung. Dan kedua orang kerabat yang duduk didekat jendela tersebut. Abraham memperhatikan sekeliling restoran namun tidak ada yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada televisi yang diletakkan diujung ruangan diatas station si pelayan. Jensen pun mengikuti pandangan Abraham yang sedang menyaksikan siaran berita mancanegara tersebut.

“Apa itu? kejadiannya baru dua hari yang lalu,” kata Jensen sambil melirik temannya. “Bisakah tolong dibesarkan volumenya?” tanyanya pada si pelayan.

Si pelayan hanya membalas dengan tatapan bingung ke arah Jensen. Berulang kali Jensen mencoba mengatakan apa yang dimaksud dan berulang kali juga pelayan itu tidak mengerti.

“Apa sih bahasa Rusianya, besarkan volumenya?” katanya pada akhirnya.

“Son de télévision, s’il vous plaît? Merci,” jawab Abraham.

“Itu tadi bahasa Prancis, bukan?”

“Lihat sekelilngmu, kawan, kita berada di kawasan Prancis sekarang,” jawab Abraham dengan senyum kemenangan.

Jensen tidak menggubrisnya, dia hanya memperhatikan televisi yang semakin lama semakin terdengar suaranya dengan bahasa Rusia yang fasih dan semakin lama semakin terpaku pada tayangan berita tersebut.

“Astaga, Abe, kau percaya itu?” gumamnya tetap memandang ke arah televisi. “Kejadiannya baru dua hari yang lalu. Jepang dalam keadaan gawat darurat. Bagaimana bisa gempa dapat meluluhlantahkan kota seperti itu?”

“Aku rasa kita ketinggalan banyak informasi, sobat. Kau lihat itu? Aku rasa tidak ada yang tersisa disana kalau dilihat dari keadaannya.”

“Lihat saja retakan yang dihasilkan dari gempa itu, hampir terlihat seperti Grand Canyon! Bagaimana dengan kiamat nanti?”

“Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi disana, Jensen,” terjadi keheningan sejenak dan Jensen membalasnya dengan menyebut nama Tuhan. “Tapi, Jensen, kau bisa melihatnya dari retakan itu. Lihatlah!” seru Abraham sambil terperanjat seakan tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan atau apa yang akan dia katakan.

“Ada apa dengan retakannya? Bukankah wajar gempa sebesar itu menghasilkan akibat yang besar pula? Astaga, Abe, disaat seperti ini kau masih mau mempresentasikan teorimu?” gumam Jensen ketika tahu bahwa temannya akan berbicara panjang lebar.

“Aku setuju dengan kau menjadi bosnya hari ini, tapi aku tidak tahan kalau harus menahan apa yang ada didalam otakku,” gumamnya sambil mengambil croissant miliknya sebagai model presentasinya. “Pertanyaannya adalah bukan hanya bagaimana bisa, tetapi juga apa yang menyebabkannya. Keadaannya begini,” lanjutnya. “Kita contohkan roti ini sebagai lapisan Bumi kita. Jika retakan yang terjadi karena adanya lempengan Bumi yang bergser, maka bentuk tanah yang dihasilkan akibat gempa akan datar dan tidak membentuk suatu gunungan seperti itu. Lain halnya kalau kita coba masukan pulpen ini kebagian bawah roti dan mendorongnya keatas, maka persis akan terjadi gunungan seperti di tayangan berita itu. Jepang memang hampir selalu dilanda gempa, baik yang kecil sampai yang besar, tapi kalau dilihat dari yang terjadi di tayangan itu, pertanyaannya bukan hanya bagaimana bisa hal itu terjadi, tapi juga apa yang menyebabkan gempa dan gunungan yang cukup besar dilapisan tanah itu. Menurutku, kalau dilihat dari keadaannya dan dari teoriku, aku berkesimpulan bahwa retakan yang disebabkan oleh sesuatu itulah yang menyebabkan terjadinya gempa, bukan sebaliknya.”

“Lalu apa bedanya dengan kedua hal itu?”

“Sangat berbeda, Jensen, sangat berbeda. Kalau gempa itu yang menyebabkan retakan seperti itu terjadi—walaupun hal itu sangat tidak mungkin—maka itulah yang akan dipercaya oleh masyarakat yang memperhatikan. Tapi jika sebaliknya, sesuatu yang muncul dari retakan itu yang menyebabkan gempa, maka pemerintah sudah menyembunyikan sesuatu dari kita.”

“Astaga, Abe, darimana kau bisa sampai berpikir seperti itu?”

“Aku sempat bekerja untuk pemerintah Amerika, kawan, aku tahu sedikit banyak tentang hal-hal seperti itu,” katanya sambil menatap kearah pelayan dan pengunjung lainnya secara bergantian yang ternyata mereka sedang memperhatikan kedua pasang mata yang sedang berdebat itu.

Pelanggan yang tadinya sedang sibuk dengan koran dan sarapannya kini menjadi fokus pada Jensen dan Abraham. Ia pun mendekat ke meja mereka sambil melepas jaketnya dan duduk disebelah Jensen sambil menatap Abraham dengan tajam.

“Apa saja yang kau ketahui tentang kejadian itu, anak muda?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih.

“Hanya yang ditayangkan di televisi,” jawab Abraham sedikit gugup.

“Aku mendengar semuanya, termasuk tentang teorimu tadi. Dan jujur, aku sangat tertarik dengan apa yang kau jelaskan tadi. Seolah kau tahu semua yang tidak diketahui orang lain.”

“Aku hanya berspekulasi, Pak. Tidak lebih. Orang lain bahkan dapat melakukannya lebih baik dari diriku. Walaupun kenyataannya aku bisa benar, tapi aku benci jika harus menjadi seperti Sherlock Holmes yang selalu benar,” Abraham mengatakan kalimat yang terakhir itu lebih kepada dirinya dan Jensen ketimbang dengan pria yang mengajaknya bicara.

“Tapi tidak sesempurna apa yang kau ceritakan, Nak,” kedua kerabat itu pun hanya bisa saling menatap bingung. “Kau bisa mempercayakan semuanya kepadaku. Semua yang akan kau coba jabarkan tentang kejadian di Tokyo itu, menurut teorimu, tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya. Karena aku juga berkeyakinan, semua informasi yang kita dapat yang tidak pantas untuk dipublikasikan, hanya akan menjadi rahasia bagi yang mengetahuinya.”

“Dan kami adalah orang yang berkeyakinan, tidak menjadi akrab dengan orang yang baru dikenal,” jawab Jensen.

“Maafkan aku, betapa tidak sopannya aku,” jawab pria itu sambil terkekeh dan kembali memasang tampang serius ketika melanjutkan. “Baiklah, kita mulai dari awal kalau begitu. Aku dari organisasi yang dibentuk secara rahasia oleh Dewan Perwakilan Dunia, yang aku yakin kalian juga belum pernah mendengarnya. Kami menamakan organisasi kami ini dengan nama The Guardians Of The Day, atau kami biasanya menyebut dengan nama The GOD. Dan kalian dapat memanggilku, Saratov. Agen Saratov.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar