|
2
|
Langkahnya yang pasti dan tegas semakin
cepat bergerak saat melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Membereskan
baju-baju yang tergeletak di kasur, menggosok gigi, memakai pakaian dengan
stelan jas berwarna hitam dan merapikan semua keperluan yang dibutuhkan ia
lakukan di waktu yang bersamaan. Bahkan setengah berlari ketika ia menuju ke
kamar atas setelah selesai dengan semua kebutuhannya di kamarnya yang terletak
dibagian bawah sebuah apartemen. Kamarnya memang dalam keadaan tidak keruan
ketika terakhir ia tinggalkan, tapi melihat kamar yang baru saja ia masuki
membuatnya berpikir bahwa kamarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan yang ada
dihadapannya ini, dalam segi kekacauannya.
“Teknologi, sains,
fisika, Einstein, Edison, Newton. Semua dapat kau jabarkan diluar kepalamu
dengan sangat luar biasa. Tapi untuk memperhatikan sedikit dari bagian
kehidupanmu, harus orang lain yang memulainya? Demi Tuhan, Abe, kau belajar
segalanya tentang biologi, tentang hukum alam tapi kau tidak mengamalkannya
dalam kehidupanmu sehari-hari. Dalam kehidupanmu sendiri!” ujar Jensen yang
baru saja memasuki kamar temannya. “Dan bisakah kau matikan video game-mu itu
saat ada orang yang sedang berbicara padamu?!”
“Ah!
Teman baikku, Jensen. Ini permainan terbaru, apa kau tidak tahu? Serial terbaru
dari Call of Duty. Kau ingin
memainkannya bersama? Kurasa tidak,” jawab Abraham sambil mematikan video
gamenya. “Tapi pernyataanmu itu sedikit
keliru, sobat. Biologi memang termasuk dalam sains tapi sains bukan hanya
sekedar biologi. Dan harus ada keterkaitannya juga antara fisika dan kimianya
agar tercipta suatu kondisi yang saling menguntungkan. Lagipula yang kupelajari
selama ini tidak hanya sekedar fisika, biologi ataupun kimia. Aku mempelajari
tentang keseimbangan alam semesta ini, Jensen. Keseimbangan yang menyebabkan harmonisasi
dari ciptaan-Nya yang sempurna—alam ini. Karena memang jika kita perhatikan
semua yang tercipta di alam semesta ini memang saling berpasangan dan saling
menciptakan hubungan timbal-balik yang seimbang.
“Contohnya
api yang dapat padam dengan air, siang yang selalu berganti dengan malam, ada
panas dan ada dingin, kutub selatan dengan kutub utara, virus dengan antivirus,
kanan dengan kiri, malaikat dengan iblis dan Sang Pencipta dengan Sang
Penghancur. Dan kau tahu, Jensen, semua hal itu membuatku berspekulasi bahwa
benda yang kau lihat di alam ini, yang bersifat materi, mempunyai lawannya,
yaitu zat antimateri. Yang mana aku
yakin hal itulah yang nanti akan membinasakan alam semesta ini. Singkat cerita,
jika big bang tercipta karena adanya
muatan materi yang berlebih, maka big
crunch disebabkan oleh zat antimateri
ini. Atau dengan kata lain, materi adalah cikal bakal suatu kehidupan dan antimateri inilah cikal bakal suatu
kehancuran.”
“Hanya
tiga kata yang aku inginkan, Abe. Rapikan! Penampilanmu! Sekarang! Karena jika
kau tidak keberatan, kita mempunyai jadwal yang padat hari ini. Karena aku akan
bertemu dengan klienku pagi ini dan aku tidak mau ini menjadi hari terakhir
bagi karirku! Dan terlebih juga kita mempunyai janji bertemu seseorang hari
ini, jadi aku ingin kau berpenampilan sebaik mungkin agar tidak membuatku
kecewa—atau mungkin membuatnya
kecewa, lebih tepatnya,”
“Kita?
Bukankah hanya kau yang ingin bertemu klien hari ini?”
“Memang”
“Lalu untuk apa aku
juga harus bersiap-siap?”
“Ini hari Jumat,
Abe. Dan kau ingat apa yang kita janjikan pada hari Jumat ini?”
“Ingatanku sedang
kacau belakangan ini.”
“Kau, aku, wanita
itu, sore ini, restoran Prancis.”
“Hari ini?!
Sekarang?! Oh, tapi bukankah kau akan ada janji bertemu klienmu hari ini?”
“Lalu?”
“Kau
pasti akan sibuk mengurusi klienmu itu, jadi aku akan menunggumu dengan manis
disini sampai kau pulang,” ujar Abraham dengan senyum yang aneh.
“Temanku,
Abraham Quint, aku ingin kau . . .”
“Percayalah,
Jensen, aku sibuk dan kau akan lebih sibuk lagi. Tidakkah kau lihat . . .”
“Rapikan
penampilanmu sekarang!”
“Selama
ini selalu kau yang membuatkanku sarapan, jadi untuk sekarang biar aku yang
menyiapkan . . .”
“Kita
tidak punya banyak waktu!”
“Omelet
dan kopi hangat . . .”
“Sekarang.”
“Ditambah
dengan sedikit mentega dan . . .”
“Sekarang,
Abraham!”
“Oke, baiklah. Aku
akan bersiap sekarang. Hanya saja jika kau mau . . .”
“Astaga, Abe!
Bisakah kau lakukan saja? Terima kasih!”
Menit berikutnya
Jensen dan Abraham berjalan keluar apartemen mereka menyusuri pinggir jalan
salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia, Moskow.
Sangat padat dan berdesakkan bagi warga sekitar tapi lain halnya bagi para
pebisnis, karena ini adalah surganya mereka. Banyak lapangan pekerjaan dengan
prospek yang sangat menjanjikan bagi mereka yang mau bekerja keras dan bagi
mereka yang sedang mencari kesempatan, seperti dua orang kerabat ini, Jensen
dan Abraham.
Jensen, dengan
tinggi badan sekitar seratus delapan puluh sentimeter, adalah pemuda asal kota
Heilbronn, kota terbesar ke enam di Jerman. Setelah lulus kuliah ia memutuskan
untuk mencari pekerjaan dan mengadu nasib di negara lain. Sebelumnya ia bersama
Abraham pernah menjelajahi beberapa negara Eropa, seperti Swiss, Swedia,
Finlandia dan semenanjung Skandinavia hingga akhirnya sekarang mereka berlabuh
di Moskow, Rusia. Karena sempat lama bersekolah di wilayah Inggris, Jensen pun
menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasanya sehari-hari, walaupun aksen
Jermannya sesekali masih terdengar.
Sementara rekannya,
Abraham, yang tinggi badannya lebih pendek beberapa sentimeter dari Jensen
namun tetap terlihat atletis, berasal dari kota Columbus, negara bagian dari Carolina
Utara, Amerika Serikat. Abraham adalah pemuda yang sangat terobsesi pada semua
jenis video game, dari mulai jenis video game klasik sampai yang terbaru
tidak ada yang tidak bisa ia mainkan. Bahkan ia terbilang ahli dalam bidang
itu. Jika ada gelar seperti pada tingkat akademis pada umumnya, dalam hal
bermain video game ia sudah sederajat dengan tingkat professor. Sisi lain dari dirinya adalah ia mempunyai keinginan
untuk menjelajahi dunia dan sangat terobsesi untuk mengetahui sisi lain dari
dunia yang belum ia lihat sebelumnya. Mendengar kabar bahwa temannya, Jensen,
ingin mencari pekerjaan di luar Jerman, ia pun menawarkan diri untuk menjadi
teman bicara Jensen sekaligus untuk mengobati rasa haus dari keinginannya yang
belum tercapai.
Walaupun berasal
dari benua yang berbeda, mereka berdua sudah menjadi teman sejak masih di
sekolah menengah pertama, yang mana pada waktu itu mereka sama sama bersekolah
di London, Inggris sampai akhir masa sekolah menengah atas. Setelah masa
sekolah atas berakhir, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke negara
masing-masing dengan kehidupannya masing-masing. Yaitu Jensen melanjutkan
kuliahnya di jurusan Hubungan Internasional sedangkan Abraham membantu keuangan
keluarganya dengan bekerja disalah satu lembaga pemerintah Amerika Serikat.
“Kau tahu, Jensen,
sejarah dari nama kota ini?” kata Abraham setelah mereka turun dari taksi dan
berjalan di wilayah Kuznetsky Most.
“Apa didalam otakmu
tahu akan segala bentuk sejarah yang tidak kuketahui?”
“Aku hanya
bertanya, tidakkah itu salah?”
“Entahlah.”
“Kota ini berasal
dari sungai yang berada membentang di kota ini, Moskwa. Kebanyakan orang beranggapan bahwa nama sungai itulah yang dinamai
sesuai nama kota ini, tapi sesungguhnya hal itu keliru, kawan.”
“Aku bahkan tidak
tahu hal sekecil itu.”
“Ya, kebanyakan
dari kita juga suka menyepelekan hal-hal kecil.”
“Oke, lalu fakta
apa lagi yang ingin kau sampaikan, Mr. Holmes?”
“Tidak ada, justru
aku yang ingin mengetahui fakta apa yang akan aku dapatkan saat ini.”
“Kita akan langsung
menuju ke restoran Prancis.”
“Klienmu?”
“Bertemu disana.”
“Wanita itu?”
“Juga disana.”
“Kata orang
pemandangan di Crimean Bridge jauh lebih bagus, dan sedang ada pameran game
terbaru di sekitar sana. Jadi aku mau kesana saja.”
“Pengalihan
perhatian!”
“Aku menyebutnya
penyelamatan diri.”
“Baiklah, bisakah
untuk hari ini saja aku yang menjadi bosnya dan kau akan menuruti semua yang
aku perintahkan kepadamu? Setelah hari ini berakhir kau bebas mau melakukan
apapun sesuka hatimu.”
“Termasuk tidur di
kasurmu—kau tidur dikasurku, mendapatkan hadiah dari setiap pembelian kentang
gorengmu, dan diperbolehkan memainkan video
gamemu dan menonton televisi dikamarmu, karena di kamarku tidak ada saluran
Nickelodeonnya,”
“Lakukan saja apa
yang aku perintahkan sepanjang hari ini.”
Sepanjang
perjalanan mereka saling diam dan hanya sesekali bicara dan tertawa ketika ada
wisatawan yang menyapa dan mengajak mereka bercanda. Hanya sekitar lima belas
menit mereka berjalan menyusuri Kuznetsky Most hingga akhirnya sampai di
Lubyanka Street. Tidak lama mereka mencari restoran yang dituju karena memang
wilayah tersebut minim akan wilayah-wilayah wisata, tidak seperti didaerah
Kuznetsky Most. Jensen memasuki restoran tersebut yang masih sepi dengan
pelanggan diikuti Abraham yang pandangannya menjelajah ke seluruh wilayah
restoran sebelum memasukinya. Setelah masuk mereka pun mencari tempat duduk
didekat jendela dengan alasan agar siapapun yang masuk ke restoran, Abraham
dapat mengetahuinya lebih dulu.
“Jam berapa
tepatnya janjimu itu?” tanya Abraham setelah kopi pesanannya disajikan.
“Delapan tiga
puluh. Kau tahulah bagaimana orang-orang bisnis itu bekerja. Dan keterlamabatan adalah bagian dari pekerjaan
mereka.”
“Aku tidak melihat
keterlambatan didalam dirimu.”
“Tapi kau yang
memperlambatku.”
“Hei, aku memujimu
sobat. Ya, walaupun kau sedikit benar.”
Jensen hanya membalasnya
dengan senyuman tipis diikuti gigitan kecil pada croissant miliknya. Belum banyak pengunjung yang datang di restoran
itu jadi mereka dapat melontarkan ejekan sesuka mereka tanpa terasa canggung.
Hanya ada empat orang didalam restoran tersebut, yaitu seorang pelayan wanita
yang sedang mengelap gelas-gelas dibalik station
tempatnya bekerja, seorang pria dengan bentuk tubuh tidak terlalu besar dan
terlihat seperti pengunjung dengan wajah berkebangsaan lokal yang sedang duduk
didepan station sambil membaca koran
dan sesekali menggesek hidungnya yang mancung. Dan kedua orang kerabat yang
duduk didekat jendela tersebut. Abraham memperhatikan sekeliling restoran namun
tidak ada yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada
televisi yang diletakkan diujung ruangan diatas station si pelayan. Jensen pun mengikuti pandangan Abraham yang
sedang menyaksikan siaran berita mancanegara tersebut.
“Apa itu?
kejadiannya baru dua hari yang lalu,” kata Jensen sambil melirik temannya.
“Bisakah tolong dibesarkan volumenya?” tanyanya pada si pelayan.
Si pelayan hanya
membalas dengan tatapan bingung ke arah Jensen. Berulang kali Jensen mencoba
mengatakan apa yang dimaksud dan berulang kali juga pelayan itu tidak mengerti.
“Apa sih bahasa
Rusianya, besarkan volumenya?”
katanya pada akhirnya.
“Son de télévision, s’il vous plaît? Merci,” jawab Abraham.
“Itu tadi bahasa Prancis, bukan?”
“Lihat sekelilngmu, kawan, kita berada di kawasan
Prancis sekarang,” jawab Abraham dengan senyum kemenangan.
Jensen tidak menggubrisnya, dia hanya memperhatikan
televisi yang semakin lama semakin terdengar suaranya dengan bahasa Rusia yang
fasih dan semakin lama semakin terpaku pada tayangan berita tersebut.
“Astaga, Abe, kau
percaya itu?” gumamnya tetap memandang ke arah televisi. “Kejadiannya baru dua
hari yang lalu. Jepang dalam keadaan gawat darurat. Bagaimana bisa gempa dapat
meluluhlantahkan kota seperti itu?”
“Aku rasa kita
ketinggalan banyak informasi, sobat. Kau lihat itu? Aku rasa tidak ada yang
tersisa disana kalau dilihat dari keadaannya.”
“Lihat saja retakan
yang dihasilkan dari gempa itu, hampir terlihat seperti Grand Canyon! Bagaimana
dengan kiamat nanti?”
“Hanya Tuhan yang
tahu apa yang terjadi disana, Jensen,” terjadi keheningan sejenak dan Jensen
membalasnya dengan menyebut nama Tuhan. “Tapi, Jensen, kau bisa melihatnya dari
retakan itu. Lihatlah!” seru Abraham sambil terperanjat seakan tidak percaya
dengan apa yang dia pikirkan atau apa yang akan dia katakan.
“Ada apa dengan
retakannya? Bukankah wajar gempa sebesar itu menghasilkan akibat yang besar
pula? Astaga, Abe, disaat seperti ini kau masih mau mempresentasikan teorimu?”
gumam Jensen ketika tahu bahwa temannya akan berbicara panjang lebar.
“Aku setuju dengan
kau menjadi bosnya hari ini, tapi aku tidak tahan kalau harus menahan apa yang
ada didalam otakku,” gumamnya sambil mengambil croissant miliknya sebagai model presentasinya. “Pertanyaannya
adalah bukan hanya bagaimana bisa, tetapi juga apa yang menyebabkannya. Keadaannya
begini,” lanjutnya. “Kita contohkan roti ini sebagai lapisan Bumi kita. Jika
retakan yang terjadi karena adanya lempengan Bumi yang bergser, maka bentuk
tanah yang dihasilkan akibat gempa akan datar dan tidak membentuk suatu
gunungan seperti itu. Lain halnya kalau kita coba masukan pulpen ini kebagian
bawah roti dan mendorongnya keatas, maka persis akan terjadi gunungan seperti
di tayangan berita itu. Jepang memang hampir selalu dilanda gempa, baik yang
kecil sampai yang besar, tapi kalau dilihat dari yang terjadi di tayangan itu, pertanyaannya
bukan hanya bagaimana bisa hal itu terjadi, tapi juga apa yang menyebabkan gempa dan gunungan yang cukup besar dilapisan
tanah itu. Menurutku, kalau dilihat dari keadaannya dan dari teoriku, aku
berkesimpulan bahwa retakan yang disebabkan oleh sesuatu itulah yang
menyebabkan terjadinya gempa, bukan sebaliknya.”
“Lalu apa bedanya
dengan kedua hal itu?”
“Sangat berbeda,
Jensen, sangat berbeda. Kalau gempa itu yang menyebabkan retakan seperti itu
terjadi—walaupun hal itu sangat tidak mungkin—maka itulah yang akan dipercaya
oleh masyarakat yang memperhatikan. Tapi jika sebaliknya, sesuatu yang muncul
dari retakan itu yang menyebabkan gempa, maka pemerintah sudah menyembunyikan
sesuatu dari kita.”
“Astaga, Abe,
darimana kau bisa sampai berpikir seperti itu?”
“Aku sempat bekerja
untuk pemerintah Amerika, kawan, aku tahu sedikit banyak tentang hal-hal
seperti itu,” katanya sambil menatap kearah pelayan dan pengunjung lainnya
secara bergantian yang ternyata mereka sedang memperhatikan kedua pasang mata
yang sedang berdebat itu.
Pelanggan yang
tadinya sedang sibuk dengan koran dan sarapannya kini menjadi fokus pada Jensen
dan Abraham. Ia pun mendekat ke meja mereka sambil melepas jaketnya dan duduk
disebelah Jensen sambil menatap Abraham dengan tajam.
“Apa saja yang kau
ketahui tentang kejadian itu, anak muda?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang
fasih.
“Hanya yang
ditayangkan di televisi,” jawab Abraham sedikit gugup.
“Aku mendengar
semuanya, termasuk tentang teorimu tadi. Dan jujur, aku sangat tertarik dengan
apa yang kau jelaskan tadi. Seolah kau tahu semua yang tidak diketahui orang
lain.”
“Aku hanya
berspekulasi, Pak. Tidak lebih. Orang lain bahkan dapat melakukannya lebih baik
dari diriku. Walaupun kenyataannya aku bisa benar, tapi aku benci jika harus menjadi
seperti Sherlock Holmes yang selalu benar,” Abraham mengatakan kalimat yang
terakhir itu lebih kepada dirinya dan Jensen ketimbang dengan pria yang mengajaknya
bicara.
“Tapi tidak
sesempurna apa yang kau ceritakan, Nak,” kedua kerabat itu pun hanya bisa
saling menatap bingung. “Kau bisa mempercayakan semuanya kepadaku. Semua yang
akan kau coba jabarkan tentang kejadian di Tokyo itu, menurut teorimu, tidak
akan ada orang lain yang mengetahuinya. Karena aku juga berkeyakinan, semua
informasi yang kita dapat yang tidak pantas untuk dipublikasikan, hanya akan
menjadi rahasia bagi yang mengetahuinya.”
“Dan kami adalah
orang yang berkeyakinan, tidak menjadi akrab dengan orang yang baru dikenal,”
jawab Jensen.
“Maafkan aku,
betapa tidak sopannya aku,” jawab pria itu sambil terkekeh dan kembali memasang
tampang serius ketika melanjutkan. “Baiklah, kita mulai dari awal kalau begitu.
Aku dari organisasi yang dibentuk secara rahasia oleh Dewan Perwakilan Dunia,
yang aku yakin kalian juga belum pernah mendengarnya. Kami menamakan organisasi
kami ini dengan nama The Guardians Of The
Day, atau kami biasanya menyebut dengan nama The GOD. Dan kalian dapat memanggilku, Saratov. Agen Saratov.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar