Selasa, 14 Oktober 2014

The GOD - chapter 2


2

Langkahnya yang pasti dan tegas semakin cepat bergerak saat melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Membereskan baju-baju yang tergeletak di kasur, menggosok gigi, memakai pakaian dengan stelan jas berwarna hitam dan merapikan semua keperluan yang dibutuhkan ia lakukan di waktu yang bersamaan. Bahkan setengah berlari ketika ia menuju ke kamar atas setelah selesai dengan semua kebutuhannya di kamarnya yang terletak dibagian bawah sebuah apartemen. Kamarnya memang dalam keadaan tidak keruan ketika terakhir ia tinggalkan, tapi melihat kamar yang baru saja ia masuki membuatnya berpikir bahwa kamarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan yang ada dihadapannya ini, dalam segi kekacauannya.

“Teknologi, sains, fisika, Einstein, Edison, Newton. Semua dapat kau jabarkan diluar kepalamu dengan sangat luar biasa. Tapi untuk memperhatikan sedikit dari bagian kehidupanmu, harus orang lain yang memulainya? Demi Tuhan, Abe, kau belajar segalanya tentang biologi, tentang hukum alam tapi kau tidak mengamalkannya dalam kehidupanmu sehari-hari. Dalam kehidupanmu sendiri!” ujar Jensen yang baru saja memasuki kamar temannya. “Dan bisakah kau matikan video game-mu itu saat ada orang yang sedang berbicara padamu?!”

            “Ah! Teman baikku, Jensen. Ini permainan terbaru, apa kau tidak tahu? Serial terbaru dari Call of Duty. Kau ingin memainkannya bersama? Kurasa tidak,” jawab Abraham sambil mematikan video gamenya. “Tapi pernyataanmu itu sedikit keliru, sobat. Biologi memang termasuk dalam sains tapi sains bukan hanya sekedar biologi. Dan harus ada keterkaitannya juga antara fisika dan kimianya agar tercipta suatu kondisi yang saling menguntungkan. Lagipula yang kupelajari selama ini tidak hanya sekedar fisika, biologi ataupun kimia. Aku mempelajari tentang keseimbangan alam semesta ini, Jensen. Keseimbangan yang menyebabkan harmonisasi dari ciptaan-Nya yang sempurna—alam ini. Karena memang jika kita perhatikan semua yang tercipta di alam semesta ini memang saling berpasangan dan saling menciptakan hubungan timbal-balik yang seimbang.

            “Contohnya api yang dapat padam dengan air, siang yang selalu berganti dengan malam, ada panas dan ada dingin, kutub selatan dengan kutub utara, virus dengan antivirus, kanan dengan kiri, malaikat dengan iblis dan Sang Pencipta dengan Sang Penghancur. Dan kau tahu, Jensen, semua hal itu membuatku berspekulasi bahwa benda yang kau lihat di alam ini, yang bersifat materi, mempunyai lawannya, yaitu zat antimateri. Yang mana aku yakin hal itulah yang nanti akan membinasakan alam semesta ini. Singkat cerita, jika big bang tercipta karena adanya muatan materi yang berlebih, maka big crunch disebabkan oleh zat antimateri ini. Atau dengan kata lain, materi adalah cikal bakal suatu kehidupan dan antimateri inilah cikal bakal suatu kehancuran.”

            “Hanya tiga kata yang aku inginkan, Abe. Rapikan! Penampilanmu! Sekarang! Karena jika kau tidak keberatan, kita mempunyai jadwal yang padat hari ini. Karena aku akan bertemu dengan klienku pagi ini dan aku tidak mau ini menjadi hari terakhir bagi karirku! Dan terlebih juga kita mempunyai janji bertemu seseorang hari ini, jadi aku ingin kau berpenampilan sebaik mungkin agar tidak membuatku kecewa—atau mungkin membuatnya kecewa, lebih tepatnya,”

            “Kita? Bukankah hanya kau yang ingin bertemu klien hari ini?”

“Memang”

“Lalu untuk apa aku juga harus bersiap-siap?”

“Ini hari Jumat, Abe. Dan kau ingat apa yang kita janjikan pada hari Jumat ini?”

“Ingatanku sedang kacau belakangan ini.”

“Kau, aku, wanita itu, sore ini, restoran Prancis.”

“Hari ini?! Sekarang?! Oh, tapi bukankah kau akan ada janji bertemu klienmu hari ini?”

            “Lalu?”

            “Kau pasti akan sibuk mengurusi klienmu itu, jadi aku akan menunggumu dengan manis disini sampai kau pulang,” ujar Abraham dengan senyum yang aneh.

            “Temanku, Abraham Quint, aku ingin kau . . .”

            “Percayalah, Jensen, aku sibuk dan kau akan lebih sibuk lagi. Tidakkah kau lihat . . .”

            “Rapikan penampilanmu sekarang!”

            “Selama ini selalu kau yang membuatkanku sarapan, jadi untuk sekarang biar aku yang menyiapkan . . .”
            “Kita tidak punya banyak waktu!”

            “Omelet dan kopi hangat . . .”

            “Sekarang.”

            “Ditambah dengan sedikit mentega dan . . .”

            “Sekarang, Abraham!”

“Oke, baiklah. Aku akan bersiap sekarang. Hanya saja jika kau mau . . .”

“Astaga, Abe! Bisakah kau lakukan saja? Terima kasih!”

Menit berikutnya Jensen dan Abraham berjalan keluar apartemen mereka menyusuri pinggir jalan salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia, Moskow. Sangat padat dan berdesakkan bagi warga sekitar tapi lain halnya bagi para pebisnis, karena ini adalah surganya mereka. Banyak lapangan pekerjaan dengan prospek yang sangat menjanjikan bagi mereka yang mau bekerja keras dan bagi mereka yang sedang mencari kesempatan, seperti dua orang kerabat ini, Jensen dan Abraham.

Jensen, dengan tinggi badan sekitar seratus delapan puluh sentimeter, adalah pemuda asal kota Heilbronn, kota terbesar ke enam di Jerman. Setelah lulus kuliah ia memutuskan untuk mencari pekerjaan dan mengadu nasib di negara lain. Sebelumnya ia bersama Abraham pernah menjelajahi beberapa negara Eropa, seperti Swiss, Swedia, Finlandia dan semenanjung Skandinavia hingga akhirnya sekarang mereka berlabuh di Moskow, Rusia. Karena sempat lama bersekolah di wilayah Inggris, Jensen pun menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasanya sehari-hari, walaupun aksen Jermannya sesekali masih terdengar.

Sementara rekannya, Abraham, yang tinggi badannya lebih pendek beberapa sentimeter dari Jensen namun tetap terlihat atletis, berasal dari kota Columbus, negara bagian dari Carolina Utara, Amerika Serikat. Abraham adalah pemuda yang sangat terobsesi pada semua jenis  video game, dari mulai jenis video game klasik sampai yang terbaru tidak ada yang tidak bisa ia mainkan. Bahkan ia terbilang ahli dalam bidang itu. Jika ada gelar seperti pada tingkat akademis pada umumnya, dalam hal bermain video game ia sudah sederajat dengan tingkat professor. Sisi lain dari dirinya adalah ia mempunyai keinginan untuk menjelajahi dunia dan sangat terobsesi untuk mengetahui sisi lain dari dunia yang belum ia lihat sebelumnya. Mendengar kabar bahwa temannya, Jensen, ingin mencari pekerjaan di luar Jerman, ia pun menawarkan diri untuk menjadi teman bicara Jensen sekaligus untuk mengobati rasa haus dari keinginannya yang belum tercapai.

Walaupun berasal dari benua yang berbeda, mereka berdua sudah menjadi teman sejak masih di sekolah menengah pertama, yang mana pada waktu itu mereka sama sama bersekolah di London, Inggris sampai akhir masa sekolah menengah atas. Setelah masa sekolah atas berakhir, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke negara masing-masing dengan kehidupannya masing-masing. Yaitu Jensen melanjutkan kuliahnya di jurusan Hubungan Internasional sedangkan Abraham membantu keuangan keluarganya dengan bekerja disalah satu lembaga pemerintah Amerika Serikat.

“Kau tahu, Jensen, sejarah dari nama kota ini?” kata Abraham setelah mereka turun dari taksi dan berjalan di wilayah Kuznetsky Most.

“Apa didalam otakmu tahu akan segala bentuk sejarah yang tidak kuketahui?”

“Aku hanya bertanya, tidakkah itu salah?”

“Entahlah.”

“Kota ini berasal dari sungai yang berada membentang di kota ini, Moskwa. Kebanyakan orang beranggapan bahwa nama sungai itulah yang dinamai sesuai nama kota ini, tapi sesungguhnya hal itu keliru, kawan.”

“Aku bahkan tidak tahu hal sekecil itu.”

“Ya, kebanyakan dari kita juga suka menyepelekan hal-hal kecil.”

“Oke, lalu fakta apa lagi yang ingin kau sampaikan, Mr. Holmes?”

“Tidak ada, justru aku yang ingin mengetahui fakta apa yang akan aku dapatkan saat ini.”

“Kita akan langsung menuju ke restoran Prancis.”

“Klienmu?”

“Bertemu disana.”

“Wanita itu?”

“Juga disana.”

“Kata orang pemandangan di Crimean Bridge jauh lebih bagus, dan sedang ada pameran game terbaru di sekitar sana. Jadi aku mau kesana saja.”

“Pengalihan perhatian!”

“Aku menyebutnya penyelamatan diri.”

“Baiklah, bisakah untuk hari ini saja aku yang menjadi bosnya dan kau akan menuruti semua yang aku perintahkan kepadamu? Setelah hari ini berakhir kau bebas mau melakukan apapun sesuka hatimu.”

“Termasuk tidur di kasurmu—kau tidur dikasurku, mendapatkan hadiah dari setiap pembelian kentang gorengmu, dan diperbolehkan memainkan video gamemu dan menonton televisi dikamarmu, karena di kamarku tidak ada saluran Nickelodeonnya,”

“Lakukan saja apa yang aku perintahkan sepanjang hari ini.”

Sepanjang perjalanan mereka saling diam dan hanya sesekali bicara dan tertawa ketika ada wisatawan yang menyapa dan mengajak mereka bercanda. Hanya sekitar lima belas menit mereka berjalan menyusuri Kuznetsky Most hingga akhirnya sampai di Lubyanka Street. Tidak lama mereka mencari restoran yang dituju karena memang wilayah tersebut minim akan wilayah-wilayah wisata, tidak seperti didaerah Kuznetsky Most. Jensen memasuki restoran tersebut yang masih sepi dengan pelanggan diikuti Abraham yang pandangannya menjelajah ke seluruh wilayah restoran sebelum memasukinya. Setelah masuk mereka pun mencari tempat duduk didekat jendela dengan alasan agar siapapun yang masuk ke restoran, Abraham dapat mengetahuinya lebih dulu.

“Jam berapa tepatnya janjimu itu?” tanya Abraham setelah kopi pesanannya disajikan.

“Delapan tiga puluh. Kau tahulah bagaimana orang-orang bisnis itu bekerja. Dan keterlamabatan adalah bagian dari pekerjaan mereka.”

“Aku tidak melihat keterlambatan didalam dirimu.”

“Tapi kau yang memperlambatku.”

“Hei, aku memujimu sobat. Ya, walaupun kau sedikit benar.”

Jensen hanya membalasnya dengan senyuman tipis diikuti gigitan kecil pada croissant miliknya. Belum banyak pengunjung yang datang di restoran itu jadi mereka dapat melontarkan ejekan sesuka mereka tanpa terasa canggung. Hanya ada empat orang didalam restoran tersebut, yaitu seorang pelayan wanita yang sedang mengelap gelas-gelas dibalik station tempatnya bekerja, seorang pria dengan bentuk tubuh tidak terlalu besar dan terlihat seperti pengunjung dengan wajah berkebangsaan lokal yang sedang duduk didepan station sambil membaca koran dan sesekali menggesek hidungnya yang mancung. Dan kedua orang kerabat yang duduk didekat jendela tersebut. Abraham memperhatikan sekeliling restoran namun tidak ada yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada televisi yang diletakkan diujung ruangan diatas station si pelayan. Jensen pun mengikuti pandangan Abraham yang sedang menyaksikan siaran berita mancanegara tersebut.

“Apa itu? kejadiannya baru dua hari yang lalu,” kata Jensen sambil melirik temannya. “Bisakah tolong dibesarkan volumenya?” tanyanya pada si pelayan.

Si pelayan hanya membalas dengan tatapan bingung ke arah Jensen. Berulang kali Jensen mencoba mengatakan apa yang dimaksud dan berulang kali juga pelayan itu tidak mengerti.

“Apa sih bahasa Rusianya, besarkan volumenya?” katanya pada akhirnya.

“Son de télévision, s’il vous plaît? Merci,” jawab Abraham.

“Itu tadi bahasa Prancis, bukan?”

“Lihat sekelilngmu, kawan, kita berada di kawasan Prancis sekarang,” jawab Abraham dengan senyum kemenangan.

Jensen tidak menggubrisnya, dia hanya memperhatikan televisi yang semakin lama semakin terdengar suaranya dengan bahasa Rusia yang fasih dan semakin lama semakin terpaku pada tayangan berita tersebut.

“Astaga, Abe, kau percaya itu?” gumamnya tetap memandang ke arah televisi. “Kejadiannya baru dua hari yang lalu. Jepang dalam keadaan gawat darurat. Bagaimana bisa gempa dapat meluluhlantahkan kota seperti itu?”

“Aku rasa kita ketinggalan banyak informasi, sobat. Kau lihat itu? Aku rasa tidak ada yang tersisa disana kalau dilihat dari keadaannya.”

“Lihat saja retakan yang dihasilkan dari gempa itu, hampir terlihat seperti Grand Canyon! Bagaimana dengan kiamat nanti?”

“Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi disana, Jensen,” terjadi keheningan sejenak dan Jensen membalasnya dengan menyebut nama Tuhan. “Tapi, Jensen, kau bisa melihatnya dari retakan itu. Lihatlah!” seru Abraham sambil terperanjat seakan tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan atau apa yang akan dia katakan.

“Ada apa dengan retakannya? Bukankah wajar gempa sebesar itu menghasilkan akibat yang besar pula? Astaga, Abe, disaat seperti ini kau masih mau mempresentasikan teorimu?” gumam Jensen ketika tahu bahwa temannya akan berbicara panjang lebar.

“Aku setuju dengan kau menjadi bosnya hari ini, tapi aku tidak tahan kalau harus menahan apa yang ada didalam otakku,” gumamnya sambil mengambil croissant miliknya sebagai model presentasinya. “Pertanyaannya adalah bukan hanya bagaimana bisa, tetapi juga apa yang menyebabkannya. Keadaannya begini,” lanjutnya. “Kita contohkan roti ini sebagai lapisan Bumi kita. Jika retakan yang terjadi karena adanya lempengan Bumi yang bergser, maka bentuk tanah yang dihasilkan akibat gempa akan datar dan tidak membentuk suatu gunungan seperti itu. Lain halnya kalau kita coba masukan pulpen ini kebagian bawah roti dan mendorongnya keatas, maka persis akan terjadi gunungan seperti di tayangan berita itu. Jepang memang hampir selalu dilanda gempa, baik yang kecil sampai yang besar, tapi kalau dilihat dari yang terjadi di tayangan itu, pertanyaannya bukan hanya bagaimana bisa hal itu terjadi, tapi juga apa yang menyebabkan gempa dan gunungan yang cukup besar dilapisan tanah itu. Menurutku, kalau dilihat dari keadaannya dan dari teoriku, aku berkesimpulan bahwa retakan yang disebabkan oleh sesuatu itulah yang menyebabkan terjadinya gempa, bukan sebaliknya.”

“Lalu apa bedanya dengan kedua hal itu?”

“Sangat berbeda, Jensen, sangat berbeda. Kalau gempa itu yang menyebabkan retakan seperti itu terjadi—walaupun hal itu sangat tidak mungkin—maka itulah yang akan dipercaya oleh masyarakat yang memperhatikan. Tapi jika sebaliknya, sesuatu yang muncul dari retakan itu yang menyebabkan gempa, maka pemerintah sudah menyembunyikan sesuatu dari kita.”

“Astaga, Abe, darimana kau bisa sampai berpikir seperti itu?”

“Aku sempat bekerja untuk pemerintah Amerika, kawan, aku tahu sedikit banyak tentang hal-hal seperti itu,” katanya sambil menatap kearah pelayan dan pengunjung lainnya secara bergantian yang ternyata mereka sedang memperhatikan kedua pasang mata yang sedang berdebat itu.

Pelanggan yang tadinya sedang sibuk dengan koran dan sarapannya kini menjadi fokus pada Jensen dan Abraham. Ia pun mendekat ke meja mereka sambil melepas jaketnya dan duduk disebelah Jensen sambil menatap Abraham dengan tajam.

“Apa saja yang kau ketahui tentang kejadian itu, anak muda?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih.

“Hanya yang ditayangkan di televisi,” jawab Abraham sedikit gugup.

“Aku mendengar semuanya, termasuk tentang teorimu tadi. Dan jujur, aku sangat tertarik dengan apa yang kau jelaskan tadi. Seolah kau tahu semua yang tidak diketahui orang lain.”

“Aku hanya berspekulasi, Pak. Tidak lebih. Orang lain bahkan dapat melakukannya lebih baik dari diriku. Walaupun kenyataannya aku bisa benar, tapi aku benci jika harus menjadi seperti Sherlock Holmes yang selalu benar,” Abraham mengatakan kalimat yang terakhir itu lebih kepada dirinya dan Jensen ketimbang dengan pria yang mengajaknya bicara.

“Tapi tidak sesempurna apa yang kau ceritakan, Nak,” kedua kerabat itu pun hanya bisa saling menatap bingung. “Kau bisa mempercayakan semuanya kepadaku. Semua yang akan kau coba jabarkan tentang kejadian di Tokyo itu, menurut teorimu, tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya. Karena aku juga berkeyakinan, semua informasi yang kita dapat yang tidak pantas untuk dipublikasikan, hanya akan menjadi rahasia bagi yang mengetahuinya.”

“Dan kami adalah orang yang berkeyakinan, tidak menjadi akrab dengan orang yang baru dikenal,” jawab Jensen.

“Maafkan aku, betapa tidak sopannya aku,” jawab pria itu sambil terkekeh dan kembali memasang tampang serius ketika melanjutkan. “Baiklah, kita mulai dari awal kalau begitu. Aku dari organisasi yang dibentuk secara rahasia oleh Dewan Perwakilan Dunia, yang aku yakin kalian juga belum pernah mendengarnya. Kami menamakan organisasi kami ini dengan nama The Guardians Of The Day, atau kami biasanya menyebut dengan nama The GOD. Dan kalian dapat memanggilku, Saratov. Agen Saratov.”

Jumat, 03 Oktober 2014

The GOD - chapter 1


1

Pimpinan tertinggi di organisasi ini, Jenderal Mureaou, tampak sangat gelisah. Raut wajahnya yang cemas dan was-was saat ini terlihat sangat tidak serasi dengan pembawaannya yang selalu tegas, dingin dan bersahaja. Berulang kali dia melihat jam dilengan kirinya dan monitor raksasa yang ada di hadapannya diwaktu yang bersamaan. Menunggu dan berharap sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi adalah bagaikan mengharapkan hujan di tengah hari di gurun pasir, suatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi, karena kenyataannya saat ini adalah sesuatu yang sang Jenderal takutkan itu sudah tidak dapat terelakkan lagi.

“Terjadi kontak dengan agen di koordinat 3-0-2, Pak!” seru petugas pengawas monitor.

“Sambungkan langsung ke layar utama, biarkan kita semua tahu apa yang kita takutkan ini sungguh benar apa adanya,” jawab Jenderal Mureaou dan detik berikutnya tampak petugas lapangan di layar monitor raksasa yang sedang diperhatikan sang Jenderal sejak tadi.

Dengan wajahnya yang bercampur serpihan tanah dan bebatuan kerikil serta beberapa luka di bagian wajahnya, Agen lapangan mencoba mengatakan sesuatu dengan terbata-bata. Sesekali dia menghela napas dan mengatur tata bicaranya agar dapat berbicara dengan teratur.

“Markas, masuk! Markas, masuk! Agen Plymouth disini. Masuk, markas! Aku ingin melaporkan situasiku. Terjadi kekacauan disini setelah gempa yang sangat dahsyat baru saja terjadi. Semua Agen tidak ada yang selamat, aku ulangi, tidak ada Agen yang selamat! Hanya aku yang tersisa. Saat ini aku sedang berada di Yokohama, ratusan mil jaraknya dari ibukota Tokyo. Aku tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Tokyo menjadi seperti itu, gempa yang sangat dahsyat tadi, aku yakin setelah bencana tadi Tokyo sudah tidak dapat beroperasi kembali seperti sedia kala. Tokyo lumpuh! Atau bahkan saat ini ia sudah rata dengan tanah! Kalian tidak akan percaya dengan apa yang aku alami disini, tapi aku dapat merasakannya! Walaupun aku belum mendapatkan penglihatan yang pasti, tapi aku dapat merasakannya mereka bergerak dibawah kaki kami! Ya, aku bilang mereka, karena gempa itu—aku yakin—disebabkan oleh sesuatu yang bergerak dibawah tanah! Sesuatu yang besar!”

“Ini sesuatu yang berbeda, aku yakin itu. Jenderal Mureaou, aku yakin Anda berada disana menyaksikanku saat ini, menyaksikan pria yang sedang berada diujung kematiannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi, persediaanku sudah habis, dan tenagaku sudah mencapai batasnya. Aku mohon kirim bantuan dan pasukan ke kota ini. Kota ini sedang berada diujung kebinasaan, begitupun penduduk disini. Banyak warga sipil yang tidak bersalah menjadi korbannya.”

Sesaat gambar dilayar monitor menjadi putus-putus dan semua petugas yang menyaksikan layar monitor raksasa itu digeluti oleh perasaan takut dan penuh harap yang tidak pasti.

“Aku rasa mereka juga bergerak kearah Yokohama!” sambung Agen Plymouth setelah kembali tersambung, namun kali ini gambar pada layar monitor raksasa tidak sejernih sebelumnya. “Ya, mereka juga disini, di Yokohama! Aku bisa merasakannya mereka bergerak dibawah kakiku dan radarku menangkap sebuah penampakan yang sangat besar sedang mendekat dari arah Tokyo menuju kemari. Aku sudah tidak dapat bertahan lagi, Jenderal. Aku sarankan Anda harus mengirim bantuan sekarang juga. Jangan biarkan bumi kita diambil alih oleh mereka, Jenderal! Kita harus melawan! Kita harus melawan! Bentuk pasukan terkuat, Jenderal! Katakan kau mempunyai strategi untuk melawan mereka.”

Sambungan terputus kembali, dan sang Jenderal yang diajak bicara hanya dapat menundukan kepalanya dengan raut wajah yang tegas.

“Jenderal, aku mendapatkan sambungan dari radar Agen Plymouth,” kata salah satu petugas. “Aku rasa Anda harus melihat ini, Pak. Ini sesuatu yang—aku rasa—berbeda. Dan aku bersumpah, aku belum pernah melihat hal yang seperti ini. Bahkan tidak didalam radar.”

“Sambungkan saja pada layar utama!” jawab Jenderal sambil tetap menundukkan kepalanya. Detik berikutnya muncul tampilan radar di layar monitor yang menampilkan sesuatu yang tidak biasa.

“Oh, Tuhanku. Benda apa itu?” kata petugas lain yang berdiri disamping sang Jenderal.

“Bagaimana bisa benda sebesar itu ada dibawah sana?” sahut petugas lainnya. “Apa pihak militer U.S.A mempunyai peralatan tempur dengan bobot seperti itu?”

Semua saling menatap satu sama lain, mencoba menduga-duga benda apa yang ditampilkan pada layar yang sedang mereka saksikan itu.

“Pesawat Hercules Air Force One,” jawab sang Jenderal pada akhirnya, namun semua tampak makin bingung dengan jawaban Sang Jenderal tersebut.

“Tapi, Jenderal Mureaou, Air Force One hanya . . .”

“Dua puluh. Hampir setara dengan dua puluh kali lipat pesawat Air Force One.”

Semua terdiam dan menanyakan pertanyaan yang sama didalam pikiran mereka. Bagaimana benda sebesar itu bisa berada didalam Bumi?! Pertanyaan seperti itu seharusnya bukan menjadi masalah bagi organisasi yang di komandani Jenderal Mureaou ini. Pasalnya organisasi ini terbentuk dengan tujuan mempertahankan segala bentuk serangan yang mengancam kehidupan di muka bumi. Namun kenyataannya yang terjadi sekarang mereka seperti telah kehilangan harapan untuk dapat melawan apapun yang ingin menginvasi planet Bumi ini. Bila mereka tidak dapat mengatasi masalah ini, maka kehancuran akan melanda organisasi tersebut, atau lebih parah lagi, kehancuran itu akan menjadi ancaman serius bagi kehidupan di Bumi.

“Pak, kami mendapat sambungan kembali dari Agen Plymouth!” seru petugas pengawas monitor kembali.

“Aku sudah mengirimkan tampilan radarku kepada kalian, jadi apa yang aku lihat kalian juga akan melihatnya,” lanjut Agen Plymouth. “Aku harap kalian sudah membentuk tim terbaik untuk mengatasi masalah ini dan untuk menghentikan pemusnahan yang dilakukan terhadap kita! Kita harus melawan balik!”

Sesaat terdiam dan penampakan benda yang berada di radar tersebut terlihat semakin mendekat ke tengah tampilan radar. Dan penghitungan mundur dari radar itu pun mulai berjalan mundur dari hitungan dua puluh dan semakin mengecil bilangannya seiringan dengan detik yang berlalu.

“Oh, tidak! Terjadi gempa disini, persis seperti di Tokyo! Mereka ada disini, mereka juga akan memusnahkan Yokohama, persis seperti di Tokyo! Aku mohon, bentuk pasukan sekarang juga dan lawan mereka. Jangan biarkan dunia kita direnggut oleh mereka! Lakukan, saudaraku, lakukan! Lakukan untuk kita! Lakukan untuk umat manusia!”

Satu penglihatan yang sangat luar biasa terjadi setelah hitungan di radar beranjak dari angka satu ke angka nol dan setelah Agen Plymouth mengucapkan kalimat terakhirnya. Gambar pada monitor bergoyang, kamera yang tadinya dihadapkan pada wajah Agen Plymouth, kini beralih ke keadaan sekitar. Terlihat keadaan kacau balau dan semraut ditengah jalan, orang-orang berteriak dan berlarian saling berhamburan tidak keruan, gedung-gedung bergetar, tiang-tiang listrik dipinggir jalan mulai tumbang satu persatu, mobil-mobil yang tidak terkendali saling menabrakkan tubuhnya ke arah mobil lain dan kearah gedung-gedung bertingkat.

Disaat yang bersamaan semua terlihat bergetar semakin hebat, tiap detiknya getaran yang terjadi semakin besar terjadi, hingga akhirnya terjadi keretakkan ditengah jalan dan seketika itu pula muncul sesuatu yang sangat besar dari dalam tanah! Semua hancur dalam sekejap mata! Benda tersebut menghancurkan jalanan dan mobil-mobil. Bahkan gedung-gedung yang berada tepat diatasnya tidak kuasa menahan kekuatan dahsyat yang baru saja muncul dari balik tanah itu. Asap hitam dan debu seketika itu pula menyeruak ke langit dan menutup pancaran matahari yang menjadikan keadaan disana menjadi gelap. Gambar di monitor berguncang dengan sangat dahsyat dan detik berikutnya tampilan yang berada di monitor menjadi buram seiring dengan terputusnya sambungan.

Sang Pimpinan beserta bawahannya yang menyaksikan tayangan tersebut tampak takjub dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa agen dan petugas yang ada disana menyebut Tuhannya ketika melihat tayangan tersebut, ada yang terlihat ketakutan, menangis, bahkan beberapa seperti terlihat putus asa. Hanya sang Jenderal yang tampak tenang walau sedikit terguncang diakhir tayangan tersebut. Dia pun pergi meninggalkan ruangan dengan wajah datar dan kedua tangan dikepalkan dibelakang badannya, diikuti petugas yang berdiri disampingnya.

“Jenderal Mureaou, aku tahu hal tadi sangat menyakitkan untuk kita. Agen Plymouth adalah salah satu agen terbaik kita. Tapi kita harus tetap bergerak, Jenderal, agar kita tidak kalah langkah dengan mereka,” kata agen yang mengikuti Jenderal setelah mereka berada di koridor.

“Tidak ada waktu untuk meratapi apa yang sudah terjadi, Agen Saratov,” jawab sang Jenderal. “Aku juga sedang memikirkan langkah terbaik untuk melawan mereka. Kau punya laporan untukku?”

“Agen kita yang tersisa saat ini sangat terbatas jumlahnya, Pak. Tidak mungkin kalau kita terus-menerus menyerang mereka dengan kuantitas dan kualitas yang kita miliki saat ini. Sekali serangan atau pertempuran yang terjadi perbandingannya adalah satu berbanding seratus untuk jumlah pasukan yang gugur. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kuantitas untuk menyerang mereka, Pak.”

“Kalau begitu kau pasti tahu kualitas seperti apa yang sanggup mengalahkan mereka dengan cara yang tepat?”

“Sebenarnya, Pak, ada beberapa teknologi yang masih terus dikembangkan hingga akhirnya layak untuk dipakai dalam misi. Namun seperti kataku, hal itu masih dalam proses pengembangan, Pak.”

“Kita tidak bisa terus menunggu hal yang belum pasti sementara mereka terus melancarkan serangan dengan teknologi yang semakin hari semakin mematikan! Aku berani jamin kita akan menjadi bubur lebih dulu sebelum kita mencoba teknologi yang sedang kau kembangkan itu, Agen Saratov.”

“Tapi tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menunggu hal itu, Pak. Karena para agen kita banyak yang masih dalam proses pemulihan. Sangat mustahil kita untuk melancarkan serangan, terlebih untuk melawan makhluk tadi.”

“Aku akan membentuk tim. Sebuah tim yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik!” seru Jenderal Mureaou dengan tegas.
“Tapi, Pak. Bukankah hal itu ilegal dan sangat bertolak belakang dengan perjanjian, lagipula para penasihat . . .”

“Aku sudah menyiapkan daftarnya,” ujar sang Jenderal sambil memberikan berkas kepada Agen Saratov. “Kau lakukan saja perintahku, Agen Saratov. Sedangkan urusan dengan para penasihat biar aku yang menghadapinya,” kata Sang Jenderal sambil berlalu. “Lagipula temanku, Saratov, Bumi tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri.”




To be Continued . . .