Jumat, 03 Oktober 2014

The GOD - chapter 1


1

Pimpinan tertinggi di organisasi ini, Jenderal Mureaou, tampak sangat gelisah. Raut wajahnya yang cemas dan was-was saat ini terlihat sangat tidak serasi dengan pembawaannya yang selalu tegas, dingin dan bersahaja. Berulang kali dia melihat jam dilengan kirinya dan monitor raksasa yang ada di hadapannya diwaktu yang bersamaan. Menunggu dan berharap sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi adalah bagaikan mengharapkan hujan di tengah hari di gurun pasir, suatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi, karena kenyataannya saat ini adalah sesuatu yang sang Jenderal takutkan itu sudah tidak dapat terelakkan lagi.

“Terjadi kontak dengan agen di koordinat 3-0-2, Pak!” seru petugas pengawas monitor.

“Sambungkan langsung ke layar utama, biarkan kita semua tahu apa yang kita takutkan ini sungguh benar apa adanya,” jawab Jenderal Mureaou dan detik berikutnya tampak petugas lapangan di layar monitor raksasa yang sedang diperhatikan sang Jenderal sejak tadi.

Dengan wajahnya yang bercampur serpihan tanah dan bebatuan kerikil serta beberapa luka di bagian wajahnya, Agen lapangan mencoba mengatakan sesuatu dengan terbata-bata. Sesekali dia menghela napas dan mengatur tata bicaranya agar dapat berbicara dengan teratur.

“Markas, masuk! Markas, masuk! Agen Plymouth disini. Masuk, markas! Aku ingin melaporkan situasiku. Terjadi kekacauan disini setelah gempa yang sangat dahsyat baru saja terjadi. Semua Agen tidak ada yang selamat, aku ulangi, tidak ada Agen yang selamat! Hanya aku yang tersisa. Saat ini aku sedang berada di Yokohama, ratusan mil jaraknya dari ibukota Tokyo. Aku tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Tokyo menjadi seperti itu, gempa yang sangat dahsyat tadi, aku yakin setelah bencana tadi Tokyo sudah tidak dapat beroperasi kembali seperti sedia kala. Tokyo lumpuh! Atau bahkan saat ini ia sudah rata dengan tanah! Kalian tidak akan percaya dengan apa yang aku alami disini, tapi aku dapat merasakannya! Walaupun aku belum mendapatkan penglihatan yang pasti, tapi aku dapat merasakannya mereka bergerak dibawah kaki kami! Ya, aku bilang mereka, karena gempa itu—aku yakin—disebabkan oleh sesuatu yang bergerak dibawah tanah! Sesuatu yang besar!”

“Ini sesuatu yang berbeda, aku yakin itu. Jenderal Mureaou, aku yakin Anda berada disana menyaksikanku saat ini, menyaksikan pria yang sedang berada diujung kematiannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi, persediaanku sudah habis, dan tenagaku sudah mencapai batasnya. Aku mohon kirim bantuan dan pasukan ke kota ini. Kota ini sedang berada diujung kebinasaan, begitupun penduduk disini. Banyak warga sipil yang tidak bersalah menjadi korbannya.”

Sesaat gambar dilayar monitor menjadi putus-putus dan semua petugas yang menyaksikan layar monitor raksasa itu digeluti oleh perasaan takut dan penuh harap yang tidak pasti.

“Aku rasa mereka juga bergerak kearah Yokohama!” sambung Agen Plymouth setelah kembali tersambung, namun kali ini gambar pada layar monitor raksasa tidak sejernih sebelumnya. “Ya, mereka juga disini, di Yokohama! Aku bisa merasakannya mereka bergerak dibawah kakiku dan radarku menangkap sebuah penampakan yang sangat besar sedang mendekat dari arah Tokyo menuju kemari. Aku sudah tidak dapat bertahan lagi, Jenderal. Aku sarankan Anda harus mengirim bantuan sekarang juga. Jangan biarkan bumi kita diambil alih oleh mereka, Jenderal! Kita harus melawan! Kita harus melawan! Bentuk pasukan terkuat, Jenderal! Katakan kau mempunyai strategi untuk melawan mereka.”

Sambungan terputus kembali, dan sang Jenderal yang diajak bicara hanya dapat menundukan kepalanya dengan raut wajah yang tegas.

“Jenderal, aku mendapatkan sambungan dari radar Agen Plymouth,” kata salah satu petugas. “Aku rasa Anda harus melihat ini, Pak. Ini sesuatu yang—aku rasa—berbeda. Dan aku bersumpah, aku belum pernah melihat hal yang seperti ini. Bahkan tidak didalam radar.”

“Sambungkan saja pada layar utama!” jawab Jenderal sambil tetap menundukkan kepalanya. Detik berikutnya muncul tampilan radar di layar monitor yang menampilkan sesuatu yang tidak biasa.

“Oh, Tuhanku. Benda apa itu?” kata petugas lain yang berdiri disamping sang Jenderal.

“Bagaimana bisa benda sebesar itu ada dibawah sana?” sahut petugas lainnya. “Apa pihak militer U.S.A mempunyai peralatan tempur dengan bobot seperti itu?”

Semua saling menatap satu sama lain, mencoba menduga-duga benda apa yang ditampilkan pada layar yang sedang mereka saksikan itu.

“Pesawat Hercules Air Force One,” jawab sang Jenderal pada akhirnya, namun semua tampak makin bingung dengan jawaban Sang Jenderal tersebut.

“Tapi, Jenderal Mureaou, Air Force One hanya . . .”

“Dua puluh. Hampir setara dengan dua puluh kali lipat pesawat Air Force One.”

Semua terdiam dan menanyakan pertanyaan yang sama didalam pikiran mereka. Bagaimana benda sebesar itu bisa berada didalam Bumi?! Pertanyaan seperti itu seharusnya bukan menjadi masalah bagi organisasi yang di komandani Jenderal Mureaou ini. Pasalnya organisasi ini terbentuk dengan tujuan mempertahankan segala bentuk serangan yang mengancam kehidupan di muka bumi. Namun kenyataannya yang terjadi sekarang mereka seperti telah kehilangan harapan untuk dapat melawan apapun yang ingin menginvasi planet Bumi ini. Bila mereka tidak dapat mengatasi masalah ini, maka kehancuran akan melanda organisasi tersebut, atau lebih parah lagi, kehancuran itu akan menjadi ancaman serius bagi kehidupan di Bumi.

“Pak, kami mendapat sambungan kembali dari Agen Plymouth!” seru petugas pengawas monitor kembali.

“Aku sudah mengirimkan tampilan radarku kepada kalian, jadi apa yang aku lihat kalian juga akan melihatnya,” lanjut Agen Plymouth. “Aku harap kalian sudah membentuk tim terbaik untuk mengatasi masalah ini dan untuk menghentikan pemusnahan yang dilakukan terhadap kita! Kita harus melawan balik!”

Sesaat terdiam dan penampakan benda yang berada di radar tersebut terlihat semakin mendekat ke tengah tampilan radar. Dan penghitungan mundur dari radar itu pun mulai berjalan mundur dari hitungan dua puluh dan semakin mengecil bilangannya seiringan dengan detik yang berlalu.

“Oh, tidak! Terjadi gempa disini, persis seperti di Tokyo! Mereka ada disini, mereka juga akan memusnahkan Yokohama, persis seperti di Tokyo! Aku mohon, bentuk pasukan sekarang juga dan lawan mereka. Jangan biarkan dunia kita direnggut oleh mereka! Lakukan, saudaraku, lakukan! Lakukan untuk kita! Lakukan untuk umat manusia!”

Satu penglihatan yang sangat luar biasa terjadi setelah hitungan di radar beranjak dari angka satu ke angka nol dan setelah Agen Plymouth mengucapkan kalimat terakhirnya. Gambar pada monitor bergoyang, kamera yang tadinya dihadapkan pada wajah Agen Plymouth, kini beralih ke keadaan sekitar. Terlihat keadaan kacau balau dan semraut ditengah jalan, orang-orang berteriak dan berlarian saling berhamburan tidak keruan, gedung-gedung bergetar, tiang-tiang listrik dipinggir jalan mulai tumbang satu persatu, mobil-mobil yang tidak terkendali saling menabrakkan tubuhnya ke arah mobil lain dan kearah gedung-gedung bertingkat.

Disaat yang bersamaan semua terlihat bergetar semakin hebat, tiap detiknya getaran yang terjadi semakin besar terjadi, hingga akhirnya terjadi keretakkan ditengah jalan dan seketika itu pula muncul sesuatu yang sangat besar dari dalam tanah! Semua hancur dalam sekejap mata! Benda tersebut menghancurkan jalanan dan mobil-mobil. Bahkan gedung-gedung yang berada tepat diatasnya tidak kuasa menahan kekuatan dahsyat yang baru saja muncul dari balik tanah itu. Asap hitam dan debu seketika itu pula menyeruak ke langit dan menutup pancaran matahari yang menjadikan keadaan disana menjadi gelap. Gambar di monitor berguncang dengan sangat dahsyat dan detik berikutnya tampilan yang berada di monitor menjadi buram seiring dengan terputusnya sambungan.

Sang Pimpinan beserta bawahannya yang menyaksikan tayangan tersebut tampak takjub dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa agen dan petugas yang ada disana menyebut Tuhannya ketika melihat tayangan tersebut, ada yang terlihat ketakutan, menangis, bahkan beberapa seperti terlihat putus asa. Hanya sang Jenderal yang tampak tenang walau sedikit terguncang diakhir tayangan tersebut. Dia pun pergi meninggalkan ruangan dengan wajah datar dan kedua tangan dikepalkan dibelakang badannya, diikuti petugas yang berdiri disampingnya.

“Jenderal Mureaou, aku tahu hal tadi sangat menyakitkan untuk kita. Agen Plymouth adalah salah satu agen terbaik kita. Tapi kita harus tetap bergerak, Jenderal, agar kita tidak kalah langkah dengan mereka,” kata agen yang mengikuti Jenderal setelah mereka berada di koridor.

“Tidak ada waktu untuk meratapi apa yang sudah terjadi, Agen Saratov,” jawab sang Jenderal. “Aku juga sedang memikirkan langkah terbaik untuk melawan mereka. Kau punya laporan untukku?”

“Agen kita yang tersisa saat ini sangat terbatas jumlahnya, Pak. Tidak mungkin kalau kita terus-menerus menyerang mereka dengan kuantitas dan kualitas yang kita miliki saat ini. Sekali serangan atau pertempuran yang terjadi perbandingannya adalah satu berbanding seratus untuk jumlah pasukan yang gugur. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kuantitas untuk menyerang mereka, Pak.”

“Kalau begitu kau pasti tahu kualitas seperti apa yang sanggup mengalahkan mereka dengan cara yang tepat?”

“Sebenarnya, Pak, ada beberapa teknologi yang masih terus dikembangkan hingga akhirnya layak untuk dipakai dalam misi. Namun seperti kataku, hal itu masih dalam proses pengembangan, Pak.”

“Kita tidak bisa terus menunggu hal yang belum pasti sementara mereka terus melancarkan serangan dengan teknologi yang semakin hari semakin mematikan! Aku berani jamin kita akan menjadi bubur lebih dulu sebelum kita mencoba teknologi yang sedang kau kembangkan itu, Agen Saratov.”

“Tapi tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menunggu hal itu, Pak. Karena para agen kita banyak yang masih dalam proses pemulihan. Sangat mustahil kita untuk melancarkan serangan, terlebih untuk melawan makhluk tadi.”

“Aku akan membentuk tim. Sebuah tim yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik!” seru Jenderal Mureaou dengan tegas.
“Tapi, Pak. Bukankah hal itu ilegal dan sangat bertolak belakang dengan perjanjian, lagipula para penasihat . . .”

“Aku sudah menyiapkan daftarnya,” ujar sang Jenderal sambil memberikan berkas kepada Agen Saratov. “Kau lakukan saja perintahku, Agen Saratov. Sedangkan urusan dengan para penasihat biar aku yang menghadapinya,” kata Sang Jenderal sambil berlalu. “Lagipula temanku, Saratov, Bumi tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri.”




To be Continued . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar