|
1
|
Pimpinan tertinggi di organisasi ini,
Jenderal Mureaou, tampak sangat gelisah. Raut wajahnya yang cemas dan was-was
saat ini terlihat sangat tidak serasi dengan pembawaannya yang selalu tegas,
dingin dan bersahaja. Berulang kali dia melihat jam dilengan kirinya dan
monitor raksasa yang ada di hadapannya diwaktu yang bersamaan. Menunggu dan
berharap sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi adalah bagaikan
mengharapkan hujan di tengah hari di gurun pasir, suatu hal yang sangat tidak
mungkin terjadi, karena kenyataannya saat ini adalah sesuatu yang sang Jenderal
takutkan itu sudah tidak dapat terelakkan lagi.
“Terjadi kontak
dengan agen di koordinat 3-0-2, Pak!” seru petugas pengawas monitor.
“Sambungkan
langsung ke layar utama, biarkan kita semua tahu apa yang kita takutkan ini
sungguh benar apa adanya,” jawab Jenderal Mureaou dan detik berikutnya tampak
petugas lapangan di layar monitor raksasa yang sedang diperhatikan sang
Jenderal sejak tadi.
Dengan wajahnya
yang bercampur serpihan tanah dan bebatuan kerikil serta beberapa luka di
bagian wajahnya, Agen lapangan mencoba mengatakan sesuatu dengan terbata-bata.
Sesekali dia menghela napas dan mengatur tata bicaranya agar dapat berbicara
dengan teratur.
“Markas, masuk! Markas, masuk! Agen Plymouth
disini. Masuk, markas! Aku ingin melaporkan situasiku. Terjadi kekacauan disini
setelah gempa yang sangat dahsyat baru saja terjadi. Semua Agen tidak ada yang selamat,
aku ulangi, tidak ada Agen yang selamat! Hanya aku yang tersisa. Saat ini aku
sedang berada di Yokohama, ratusan mil jaraknya dari ibukota Tokyo. Aku tidak
tahu pasti apa yang menyebabkan Tokyo menjadi seperti itu, gempa yang sangat
dahsyat tadi, aku yakin setelah bencana tadi Tokyo sudah tidak dapat beroperasi
kembali seperti sedia kala. Tokyo lumpuh! Atau bahkan saat ini ia sudah rata
dengan tanah! Kalian tidak akan percaya dengan apa yang aku alami disini, tapi
aku dapat merasakannya! Walaupun aku belum mendapatkan penglihatan yang pasti,
tapi aku dapat merasakannya mereka bergerak dibawah kaki kami! Ya, aku bilang
mereka, karena gempa itu—aku yakin—disebabkan oleh sesuatu yang bergerak
dibawah tanah! Sesuatu yang besar!”
“Ini sesuatu yang berbeda, aku yakin itu. Jenderal
Mureaou, aku yakin Anda berada disana menyaksikanku saat ini, menyaksikan pria
yang sedang berada diujung kematiannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku
lakukan lagi, persediaanku sudah habis, dan tenagaku sudah mencapai batasnya.
Aku mohon kirim bantuan dan pasukan ke kota ini. Kota ini sedang berada diujung
kebinasaan, begitupun penduduk disini. Banyak warga sipil yang tidak bersalah
menjadi korbannya.”
Sesaat gambar
dilayar monitor menjadi putus-putus dan semua petugas yang menyaksikan layar
monitor raksasa itu digeluti oleh perasaan takut dan penuh harap yang tidak
pasti.
“Aku rasa mereka juga bergerak kearah
Yokohama!” sambung Agen Plymouth setelah kembali tersambung, namun kali ini
gambar pada layar monitor raksasa tidak sejernih sebelumnya. “Ya, mereka juga disini, di Yokohama! Aku
bisa merasakannya mereka bergerak dibawah kakiku dan radarku menangkap sebuah
penampakan yang sangat besar sedang mendekat dari arah Tokyo menuju kemari. Aku
sudah tidak dapat bertahan lagi, Jenderal. Aku sarankan Anda harus mengirim
bantuan sekarang juga. Jangan biarkan bumi kita diambil alih oleh mereka,
Jenderal! Kita harus melawan! Kita harus melawan! Bentuk pasukan terkuat,
Jenderal! Katakan kau mempunyai strategi untuk melawan mereka.”
Sambungan terputus
kembali, dan sang Jenderal yang diajak bicara hanya dapat menundukan kepalanya
dengan raut wajah yang tegas.
“Jenderal, aku
mendapatkan sambungan dari radar Agen Plymouth,” kata salah satu petugas. “Aku
rasa Anda harus melihat ini, Pak. Ini sesuatu yang—aku rasa—berbeda. Dan aku
bersumpah, aku belum pernah melihat hal yang seperti ini. Bahkan tidak didalam
radar.”
“Sambungkan saja
pada layar utama!” jawab Jenderal sambil tetap menundukkan kepalanya. Detik
berikutnya muncul tampilan radar di layar monitor yang menampilkan sesuatu yang
tidak biasa.
“Oh, Tuhanku. Benda
apa itu?” kata petugas lain yang berdiri disamping sang Jenderal.
“Bagaimana bisa
benda sebesar itu ada dibawah sana?” sahut petugas lainnya. “Apa pihak militer
U.S.A mempunyai peralatan tempur dengan bobot seperti itu?”
Semua saling
menatap satu sama lain, mencoba menduga-duga benda apa yang ditampilkan pada
layar yang sedang mereka saksikan itu.
“Pesawat Hercules
Air Force One,” jawab sang Jenderal pada akhirnya, namun semua tampak makin
bingung dengan jawaban Sang Jenderal tersebut.
“Tapi, Jenderal
Mureaou, Air Force One hanya . . .”
“Dua puluh. Hampir
setara dengan dua puluh kali lipat pesawat Air Force One.”
Semua terdiam dan
menanyakan pertanyaan yang sama didalam pikiran mereka. Bagaimana benda sebesar
itu bisa berada didalam Bumi?! Pertanyaan seperti itu seharusnya bukan menjadi
masalah bagi organisasi yang di komandani Jenderal Mureaou ini. Pasalnya
organisasi ini terbentuk dengan tujuan mempertahankan segala bentuk serangan
yang mengancam kehidupan di muka bumi. Namun kenyataannya yang terjadi sekarang
mereka seperti telah kehilangan harapan untuk dapat melawan apapun yang ingin
menginvasi planet Bumi ini. Bila mereka tidak dapat mengatasi masalah ini, maka
kehancuran akan melanda organisasi tersebut, atau lebih parah lagi, kehancuran
itu akan menjadi ancaman serius bagi kehidupan di Bumi.
“Pak, kami mendapat
sambungan kembali dari Agen Plymouth!” seru petugas pengawas monitor kembali.
“Aku sudah mengirimkan tampilan radarku
kepada kalian, jadi apa yang aku lihat kalian juga akan melihatnya,” lanjut
Agen Plymouth. “Aku harap kalian sudah
membentuk tim terbaik untuk mengatasi masalah ini dan untuk menghentikan
pemusnahan yang dilakukan terhadap kita! Kita harus melawan balik!”
Sesaat terdiam dan
penampakan benda yang berada di radar tersebut terlihat semakin mendekat ke
tengah tampilan radar. Dan penghitungan mundur dari radar itu pun mulai
berjalan mundur dari hitungan dua puluh dan semakin mengecil bilangannya
seiringan dengan detik yang berlalu.
“Oh, tidak! Terjadi gempa disini, persis
seperti di Tokyo! Mereka ada disini, mereka juga akan memusnahkan Yokohama,
persis seperti di Tokyo! Aku mohon, bentuk pasukan sekarang juga dan lawan
mereka. Jangan biarkan dunia kita direnggut oleh mereka! Lakukan, saudaraku,
lakukan! Lakukan untuk kita! Lakukan untuk umat manusia!”
Satu penglihatan
yang sangat luar biasa terjadi setelah hitungan di radar beranjak dari angka
satu ke angka nol dan setelah Agen Plymouth mengucapkan kalimat terakhirnya.
Gambar pada monitor bergoyang, kamera yang tadinya dihadapkan pada wajah Agen
Plymouth, kini beralih ke keadaan sekitar. Terlihat keadaan kacau balau dan
semraut ditengah jalan, orang-orang berteriak dan berlarian saling berhamburan
tidak keruan, gedung-gedung bergetar, tiang-tiang listrik dipinggir jalan mulai
tumbang satu persatu, mobil-mobil yang tidak terkendali saling menabrakkan
tubuhnya ke arah mobil lain dan kearah gedung-gedung bertingkat.
Disaat yang
bersamaan semua terlihat bergetar semakin hebat, tiap detiknya getaran yang
terjadi semakin besar terjadi, hingga akhirnya terjadi keretakkan ditengah
jalan dan seketika itu pula muncul sesuatu yang sangat besar dari dalam tanah!
Semua hancur dalam sekejap mata! Benda tersebut menghancurkan jalanan dan
mobil-mobil. Bahkan gedung-gedung yang berada tepat diatasnya tidak kuasa
menahan kekuatan dahsyat yang baru saja muncul dari balik tanah itu. Asap hitam
dan debu seketika itu pula menyeruak ke langit dan menutup pancaran matahari
yang menjadikan keadaan disana menjadi gelap. Gambar di monitor berguncang
dengan sangat dahsyat dan detik berikutnya tampilan yang berada di monitor
menjadi buram seiring dengan terputusnya sambungan.
Sang Pimpinan
beserta bawahannya yang menyaksikan tayangan tersebut tampak takjub dengan apa
yang baru saja terjadi. Beberapa agen dan petugas yang ada disana menyebut
Tuhannya ketika melihat tayangan tersebut, ada yang terlihat ketakutan,
menangis, bahkan beberapa seperti terlihat putus asa. Hanya sang Jenderal yang
tampak tenang walau sedikit terguncang diakhir tayangan tersebut. Dia pun pergi
meninggalkan ruangan dengan wajah datar dan kedua tangan dikepalkan dibelakang
badannya, diikuti petugas yang berdiri disampingnya.
“Jenderal Mureaou, aku
tahu hal tadi sangat menyakitkan untuk kita. Agen Plymouth adalah salah satu
agen terbaik kita. Tapi kita harus tetap bergerak, Jenderal, agar kita tidak
kalah langkah dengan mereka,” kata agen yang mengikuti Jenderal setelah mereka
berada di koridor.
“Tidak ada waktu
untuk meratapi apa yang sudah terjadi, Agen Saratov,” jawab sang Jenderal. “Aku
juga sedang memikirkan langkah terbaik untuk melawan mereka. Kau punya laporan
untukku?”
“Agen kita yang
tersisa saat ini sangat terbatas jumlahnya, Pak. Tidak mungkin kalau kita
terus-menerus menyerang mereka dengan kuantitas dan kualitas yang kita miliki
saat ini. Sekali serangan atau pertempuran yang terjadi perbandingannya adalah
satu berbanding seratus untuk jumlah pasukan yang gugur. Kita tidak bisa hanya mengandalkan
kuantitas untuk menyerang mereka, Pak.”
“Kalau begitu kau
pasti tahu kualitas seperti apa yang sanggup mengalahkan mereka dengan cara
yang tepat?”
“Sebenarnya, Pak,
ada beberapa teknologi yang masih terus dikembangkan hingga akhirnya layak untuk
dipakai dalam misi. Namun seperti kataku, hal itu masih dalam proses
pengembangan, Pak.”
“Kita tidak bisa
terus menunggu hal yang belum pasti sementara mereka terus melancarkan serangan
dengan teknologi yang semakin hari semakin mematikan! Aku berani jamin kita
akan menjadi bubur lebih dulu sebelum kita mencoba teknologi yang sedang kau
kembangkan itu, Agen Saratov.”
“Tapi tidak ada hal
lain yang bisa dilakukan selain menunggu hal itu, Pak. Karena para agen kita
banyak yang masih dalam proses pemulihan. Sangat mustahil kita untuk
melancarkan serangan, terlebih untuk melawan makhluk tadi.”
“Aku akan membentuk
tim. Sebuah tim yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik!” seru Jenderal
Mureaou dengan tegas.
“Tapi, Pak.
Bukankah hal itu ilegal dan sangat bertolak belakang dengan perjanjian,
lagipula para penasihat . . .”
“Aku sudah
menyiapkan daftarnya,” ujar sang Jenderal sambil memberikan berkas kepada Agen
Saratov. “Kau lakukan saja perintahku, Agen Saratov. Sedangkan urusan dengan
para penasihat biar aku yang menghadapinya,” kata Sang Jenderal sambil berlalu.
“Lagipula temanku, Saratov, Bumi tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri.”
To be Continued . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar